|
||||
| Wajah Sex Trafficking di Israel |
Ketika Mantan Wapres RI Jusuf Kalla begitu mengagumi Tel Aviv, apakah ia juga tahu kalau kota itu merupakan "surga" bagi aktivitas prostitusi? Di kota yang katanya penuh pesona itu, ternyata banyak gadis belia dari negara-negara Eropa Timur dan negara yang baru saja merdeka yang diselundupkan untuk dijual di tempat umum.Selain dipenuhi toko elektronika, kosmetik, busana, dan toko buku, di Tel Aviv terdapat pula toko tempat menjual perempuan. Kalau biasanya di etalase toko pakaian, pengunjung dapat menyaksikan model pakaian terbaru yang dikenakan pada manekin, di sebuah etalase toko di sana malah memajang manekin hidup dengan slogan "Women to Go" yang kurang lebih maksudnya adalah perempuan di situ dapat dibawa sesuai harga bandrol yang tertera. Di brandolnya dilengkapi pula dengan keterangan usia, tinggi dan berat badan, serta negara asal.
Keberadaan perempuan-perempuan berbandrol di sebuah etalase toko Israel ini tentu saja mendapat sorotan tajam dari media massa asing. Namun, lagi-lagi Tel Aviv berusaha membantahnya. Bahkan, ketika berita itu dipublikasikan oleh media massa Israel sendiri, para pejabat Tel Aviv langsung menuding sumber-sumber berita itu pembohong.
Kementerian Luar Negeri Israel pun merilis statemen untuk menepis pemberitaan tersebut. Media-media Barat pun dikerahkan untuk menyimpangkan opini umum tentang hal ini. CNN, misalnya, dalam sebuah laporannya tanggal 25 Oktober 2010, menurunkan berita bahwa toko yang memampang perempuan-perempuan berbandrol hanyalah sebuah bentuk kampanye untuk meningkatkan "kewaspadaan terhadap penyelundupan perempuan dan sex trafficking".
Meskipun rezim Zionis menolak tegas soal fakta "perempuan berbandrol" di negaranya khususnya di Tel Aviv, namun banyak laporan independen yang menguatkan fakta tersebut.
Salah satu bukti kuatnya fakta tentang pelacuran berkedok "perempuan berbandrol" itu adalah laporan oleh Nomi Levenkron, Direktur Hukum Lembaga Migrant Worker Hotline. Ia rela bekerja tanpa gaji untuk memerangi penyelundupan perempuan ke Israel yang akan dipekerjakan sebagai pelacur. Berikut ringkasan penuturannya.
Sex trafficking di Israel termasuk di antara kejahatan terorganisasi di Israel yang telah mengakar di negeri zionis ini. Juli 2005 misalnya, kabinet Israel saat itu menyatakan mendukung penetapan draf hukum yang lebih tegas soal sex trafficking akibat desakan HAM internasional. Namun, hingga kini tidak ada tindakan hukum yang tegas menyangkut merebaknya perdagangan perempuan yang menjadi objek seks di sana.
Prostitusi memang mudah ditemukan di Tel Aviv. Dari jendela klub-klub seks dapat disaksikan perempuan-perempuan dengan make-up "melimpah" tengah berbincang atau merokok. Sebagian besar mereka diselundupkan dari Rumania atau negara-negara yang baru merdeka. Mereka dijebak oleh para penyelundup. Contohnya adalah Ana (bukan nama sebenarnya), 23 tahun asal Rumania, yang memberikan kesaksian di pengadilan Israel pada tahun 2002.
Di kota kelahirannya, Anna berkenalan dengan seorang gadis asal Israel bernama Shula. Ia dijanjikan pekerjaan untuk menjaga orang tua Shula di Israel. Anna pun setuju. Berikutnya, Anna diberi tiket untuk terbang dari Bucharest. Namun Anna tidak tahu di mana ia akan mendarat. Ketika pesawat mendarat di Kairo, Anna mengira dia di Tel Aviv. Dia dikumpulkan oleh penghubung bersama beberapa perempuan lain, lalu dinaikkan ke sebuah mobil terbuka melintasi padang. Perjalanan mereka dikawal oleh para badui bersenjata. Jam dua pagi, mereka dipaksa berjalan beberapa jam dan kemudian merayap melintasi pagar kawat.
Menurut pengakuan Anna, setelah tiba di Israel, Anna dipaksa telanjang dan dimasukkan ke dalam kamar penuh dengan pria. Mereka menginspeksi seluruh bagian tubuhnya untuk menetukan harganya. Akhirnya Anna dijual dengan harga 6.000 USD.
Mario, salah seorang penyelundup perempuan kawakan di Israel mengatakan, "Perempuan-perempuan itu harus telanjang sehingga para penyelundup dapat menentukan harga mereka."
Nasib perempuan yang berpindah tangan ke enam penyelundup itu akhirnya berakhir setelah ia menjalin kontak dengan pengacara hukum dari Migrant Worker Hotline. Ia berupaya menuntut dan mengadu kepada pihak kepolisian, namun pengaduannya tidak diperhatikan. Bahkan pada masa itu, perempuan yang menjadi korban penyelundupan tidak dianggap sebagai korban, tapi justru dinilai sebagai pelaku kejahatan.
Selain tidak diberi kesempatan untuk memberikan kesaksian, "perempuan-perempuan berbandrol" itu hanya ditangkap dan diusir dari Israel.
Pada Mei 2000, Amnesti Internasional merilis laporan yang mengecam Israel karena tidak memperhatikan masalah "perbudakan seks". Pasca laporan tersebut, muncul gejolak di Israel yang akhirnya memaksa parlemen Zionis menetapkan penyelundupan perempuan sebagai tindak kriminal dengan ancaman hukuman penjara maksimal 16 tahun. Namun, masalah pelaksanaannya masih menjadi polemik besar.
Disebutkan bahwa jumlah pengunjung rumah-rumah prostitusi di Israel mencapai satu juta per bulan, dan bila tindakan hukum ini diterapkan tentunya akan mempersulit kondisi di sana. Berdasarkan laporan berbagai lembaga-lembaga HAM internasional, sedikitnya 3.000 perempuan setiap tahunnya diselundupkan ke Israel untuk dijadikan pekerja seks.
Fakta di atas semakin menegaskan bahwa Israel memang pantas disebut sebagai poros kejahatan dunia. Ketika penjajahan dan apartheid mulai dihapuskan dari muka bumi, Israel malah melecehkan HAM dengan merampas dan menginjak-injak bangsa Palestina. Ketika perdagangan seks mulai diperangi oleh dunia, Israel justru dengan bebas mengimpor para perempuan muda untuk dijadikan budak nafsu penduduk mereka.
Semua ini terjadi karena hukum internasional tak berdaya melawan rezim tukang jagal ini. Ini karena "sang polisi dunia", Amerika bahkan PBB sudah ditundukkan oleh lobi-lobi licik Israel. Maka, tidak ada jalan lain bagi para pecinta keadilan di seluruh dunia untuk bangkit dan bersatu melawan kesewenang-wenangan Israel yang kian menjadi-jadi. Menghadapi Israel, tak ada kata lain, kecuali LAWAN!
|



Ketika Mantan Wapres RI Jusuf Kalla begitu mengagumi Tel Aviv, apakah ia juga tahu kalau kota itu merupakan "surga" bagi aktivitas prostitusi? Di kota yang katanya penuh pesona itu, ternyata banyak gadis belia dari negara-negara Eropa Timur dan negara yang baru saja merdeka yang diselundupkan untuk dijual di tempat umum.