|
VOP Online- “Paling tidak, rakyat Palestina di Gaza yang diblokade ingin mengunjungi desa-desa di mana kakek-nenek mereka dibesarkan, dan wilayah itu sekarang di Israel," kata seorang aktivis.
Press TV mewawancarai James Haywood, pemimpin “Palestine Campaign” dari kalangan kampus dalam perjalanan ke Gaza, melihat dengan mata mereka sendiri kondisi Gaza. Berikut teks wawancaranya:
Press TV : "Kenapa Anda pergi ke Gaza dan kenapa sekarang?"
Haywood: "Kami telah melakukan perjalanan ke Tepi Barat dan Palestina untuk waktu yang lama dan sudah tiga tahun dari sejak sekarang. Kita nggk bisa ke Gaza sebelumnya.
Setelah revolusi Mesir, kita mencari kesempatan lewat Rafah dan setelah mengalami banyak kesulitan, kami akhirnya bisa sampai ke Gaza. Jadi ini penting bagi kami. Ini adalah momen yang bagus bisa sampai Gaza."
Press TV: "Apa yang Anda harapkan setelah melihat Gaza?"
Haywood: "Tujuan utama kami adalah menjadi saksi mata kondisi blokade Gaza, dan kita punya tenaga untuk berbagi. Maksud saya, di mana-mana terjadi kehancuran.
Ada begitu banyak hal yang Anda tidak melihat di media, yang bisa kita rasakan seperti listrik, karena Israel menghancurkan pembangkit listrik satu-satunya di Gaza. Jadi, listrik menjadi masalah besar, kita benar-benar bisa merasakaan betapa hal kecil, seperti listrik, dapat mempengaruhi begitu banyak kehidupan masyaraka sehari-hari."
Press TV: "Apa yang orang-orang Gaza katakan pada anda, saat Anda tidur, makan, berbicara dengan mereka?"
Haywood: Hal ini lucu karena Anda mulai menyadari bahwa orang-orang Palestina menderita akibat rasisme lebih dari apapun, siswa, nelayan, dengan keluarga, mereka hanya orang-orang biasa. Mereka seperti halnya saya dan Anda.
Mereka punya keinginan yang sama seperti kita. Mereka ingin hidup normal, tapi tidak bisa akibat pendudukan, dan rasisme, mereka menderita akibat ulah Israel dan komunitas internasiona.l
Satu hal yang sangat luar untuk dipahami bahkan untuk aktivis seperti saya sendiri. Anda masih memiliki masalah seperti menjadi ekstremis atau teroris, apa pun jenis omong kosong yang Anda dengar dari media. Ketika bertemu dengan orang awam seperti mereka, maka akan menjadi pengalaman yang penting."
Press TV: "Apa yang mereka inginkan?"
Haywood: "Kebebasan, sesederhana itu, kebebasan untuk hidup normal, kebebasan untuk melakukan hal-hal sederhana, seperti pergi dan mengunjungi Mesir, hal-hal sederhana seperti itu. Hal ini sangat sulit bagi mereka.
Kebebasan untuk pergi dan mengunjungi tempat kakek mereka dibesarkan, Anda tahu, tempat itu sekarang sebagian besar di Israel.
Faktanya bahwa kami bisa pergi dan mengunjungi tempat kakek mereka tinggal, di mana mereka diusir dari tahun 1948, kita sebagai orang Eropa bisa mengunjungi daerah-daerah, kota-kota, desa-desa tersebut, tetapi mereka tidak bisa, karena orang Palestina punya keluarga di sana.
Maksudku, itu hanya contoh untuk menunjukkan betapa rasisme benar-benar membuat menderita. Jadi itu adalah kebebasan dasar yang paling penting disamping yang lain." . Press TV: "Orang-orang yang menyaksikana wawancara ini ngin tahu pesan apa yang anda sampaikan?" Haywood: "Jelas sekali, saya pikir pesan utama dari orang-orang Palestina untuk pemegang peran di komunitas internasional.
Kami bertemu keluarga Al-Samouni, saya yakin banyak pemirsa mungkin tahu mereka keluarga yang benar-benar dibantai selama operasi, 29 anggota keluarga tewas. Semua lahan pertanian mereka hancur.
Kami bertemu mereka, mereka mengatakan pada hakim Goldstone, dari PBB saat mengunjungi mereka. Goldstone menangis ketika ia mendengar cerita itu. Dia memeluk mereka. Dia kembali dan membuat laporan PBB, laporan Goldstone mengatakan bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang. Dua bulan sebelum kami tiba di Gaza, ia menarik kembali pernyataan itu dan berkata, 'Tidak, aku salah '.
Mereka (keluarga Al-Samouni) tidak menyalahkan Israel; kita menyalahkan masyarakat internasional karena Israel dizinkan melakukan pembantaian setiap hari di Gaza, dan itu adalah hal penting yang harus kami lihat di sana.
Kami bertemu kelompok, misalnya, Kampanye Boikot, menyerukan boikot dari Gaza, mengatakan pada saya, 'Anda pulang ke rumah dan melakukan kampanye boikot produk-produk Israel, boikot akademik, dan boikot budaya.'
Semua hal ini adalah cara penting yang akan membantu melepaskan apartheid di Afrika Selatan dan pasti dapat membantu melepaskan apartheid Israel." (press tv/MSK/PKH)
|